• Inilah Sekolah kita bersama,sekolah yang mendidik dengan Hati Nurani.
  • Ibu Guru kita lagi bercerita dengan Media boneka.
  • Saat bahagia bercanda dengan Ibu Guru Tercinta.
  • Enak yach..bermain sama teman-teman kita.
  • Asyik bermain Bola Dunia sama Plorotan..mau aku...
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Dora..anak pintar


Tokoh utama serial ini, adalah seorang gadis kecil yang baik hati dan senang menjelajah. Ia selalu ditemani oleh Boots, seekor monyet. Mereka berdua menjelajah untuk membantu seorang teman atau mencari sesuatu yang mereka butuhkan. Arah penjelajahan mereka biasanya dibimbing oleh peta yang saat tidak digunakan tersimpan dalam tas ranse milik Dora. Selain peta, di dalam ransel Dora juga terdapat berbagai benda yang dibutuhkan dalam penjelajahan mereka. Sepanjang perjalanan mereka akan dibantu oleh beberapa teman yang akan membantu, seperti keluarga dan saudara Dora, juga binatang-binatang, tumbuhan, atau benda yang bisa berbicara lainnya. Satu-satunya yang sering menghambat perjalanan mereka adalah Swiper, seekor rubah. Ia suka mencuri barang-barang yang dibutuhkan dalam perjalanan.

Dalam penjelajahannya, Dora banyak mengajak penonton untuk "turut" membantunya, seperti mengajak anak-anak yang menjadi penontonnya untuk menjawab pertanyaan Dora, membantu menghitung, memilih jalan atau benda yang mereka butuhkan dari beberapa alternatif pilihan, mencari benda yang tersembunyi, atau memperingatkan bila Swiper mendekat. Keterlibatan berlanjut dengan munculnya anak panah menyerupai penunjuk tetikusdalam komputer, sehingga penonton seolah bisa melakukan pilihan atau menunjuk sesuatu.
Di ahir perjalanan, ketika tujuan mereka sudah tercapai, Dora biasanya merayakan keberhasilannya dengan menyanyikan lagu keberhasilan. Dora pun akan menanyakan pada penonton bagian mana dari perjalanannya yang paling disukai.
  • Boots
seekor kera yang sangat lucu. Ia selalu menemani Dora dalam setiap petualangannya. Ia selalu memakai sepatu boots berwarna merah. Ia sangat periang. Di sebuah episode, di ceritakan bagaimana Dora bertemu dan berkenalan dengan Boots yaitu ketika Dora hendak berpetualang dan menemukan Boots di bawah pohon dan sedang kesepian.
  • Issa
Seekor Iguana hijau yang juga teman Dora. Ia sangat manis dan lembut. Ia suka mengoleksi atau menanam bunga. Bunga yang paling ia sukai adalah Bunga Matahari.
  • Benny
Seekor banteng berwarna biru dengan slayer kuning bertotol biru di lehernya yang juga teman Dora dan Boots. Ia suka bersepeda.
  • Ticco
seekor tupai yang selalu memakai jaket pelampung berwarna-warni. Di episod"Dora The Explorer" yang dulu, Ticco memakai bahasa Spanyol. Namun sekarang, Ticco memakai bahasa Inggris. Ticco ini sangat cerdas dan pandai. Ia tinggal di sebuah Pohon kacang.

Kelinci dan Kura-kura


Kisah Pertama
Syahdan, seekor kelinci dan seekor kura-kura sepakat untuk berlomba adu balap. Dengan rute yang sudah mereka sepakati, mereka mulai berlari. Kelinci yang memandang remeh pada kura-kura, berlari dengan seenaknya. Sebentar-sebentar berhenti untuk melihat lambatnya kura-kura merangkak di belakangnya. Lama-lama ia merasa bosan, lalu memncari tempat berteduh.
“Ah… kura-kura masih lama. Aku bisa tidur dulu sebentar… Sejuknya di bawah pohon ini…,” demikian pikir kelinci.
Ternyata kelinci tertidur dengan sangat pulas. Kura-kura yang terus berjalan dengan lambat, lama-lama bisa mendahului kelinci. Sampai akhirnya tiba di garis finis, mengalahkan kelinci yang sombong. Kelinci sangat menyesal, karena kesembronoan dan kesombongannya membuatnya kalah dari kura-kura.
Moral of this story :
Ada falsafah Jawa yang mengatakan: “Alon-alon waton kelakon”. Artinya, pekerjaan yang dilakukan secara kontinu (istiqomah), meskipun sedikit demi sedikit, lama-lama akan berhasil. Sedangkan sembrono dan sombong akan membawa kepada penyesalan.
Kisah Kedua
Si kelinci menyesali kesalahannya. Ia meminta kepada kura-kura untuk mengulangi perlombaan mereka. Kura-kura menyanggupi.
Kembali mereka berdua berlari sepanjang rute. Kelinci kali ini tidak mau lengah. Ia fokus pada tujuan, dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai garis finis. Kali ini kelinci yang menang, sedangkan kura-kura kalah jauh tertinggal di belakangnya.
Moral of this story :
Tetap fokus pada tujuan (cita-cita), kemudian bersungguh-sungguh dalam proses mencapai tujuan akan lebih baik daripada “Alon-alon waton kelakon”.
Kisah Ketiga
Kali ini, kura-kura yang meminta pada kelinci untuk berlomba lagi. Dengan syarat, rutenya ditentukan kura-kura. Kelinci setuju. Ia berfikir, rute apapun akan ia menangi, selama ia bersungguh-sungguh dan stay focus.
Kembali mereka berdua berlari sepanjang rute. Pada awalnya, kelinci jauh meninggalkan kura-kura, karena kecepatannya berlari memang bukan tandingan kura-kura.
Namun pada pertengahan rute, kelinci tidak sanggup meneruskan larinya, karena rute berikutnya terhalang oleh sungai yang sangat dalam dan tidak ada jembatan yang bisa dilalui.
Lama sekali, kura-kura bisa menyusul kelinci sampai pinggir sungai. Dengan mudahnya kura-kura berenang menyeberang sungai, meninggalkan kelinci yang masih tertahan di seberang sungai. Akhirnya kura-kura menang pada lomba yang ketiga ini.
Moral of this story :
Kura-kura berhasil, karena ia menggunakan Strategi dan mengenal Core Competency dirinya. Ia tahu, bahwa dalam hal berlari kemampuannya jauh di bawah kelinci. Namun dalam berenang, kemampuan kelinci nol besar. Ia memilih rute yang ia kuasai, dan tidak dikuasai lawannya. Penguasaan kompetensi diri dan strategi yang jitu akan jauh lebih baik.

Bahaya menonton tv bagi anak

Siapa sih yang tidak ingin anaknya bisa tumbuh sesuai zamannya, sesuai kata ahli hikmah Ali bin Abi Thalib Ra, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya…” Anak adalah anugerah yang teramat indah bagi kita semua para orang tua sekaligus amanah dari Allah SWT untuk menjaga dan mendidiknya agar tumbuh menjadi Muslim yang baik..Betapa banyak orang tua memohon dan berdoa kepada Allah untuk diberikan momongan, namun apa daya takdir Allah masih berkata lain..Namun, bukan berarti dengan adanya anak kita merasa bangga, karena bukan hal yang mudah bagi kita untuk mendidiknya sesuai norma-norma Islam dan akhlak yang mulia. Terutama dimasa sekarang, yang menuntut anak kita didik sesuai zamannya dengan segala fasilitas-fasilitas yang memudahkan namun terkadang menipu.
Kita tidak boleh menyalahkan masa atau zaman, namun situasi dan kondisi yang ada pada saat ini sangatlah sulit untuk kita bisa mendidik anak-anak kita sesuai Islam. Terlebih ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi (kemerosotan) moral, nilai-nilai agama Islam yang tengah diabaikan begitu saja tanpa acuh, arus budaya barat yang serba permissive (serba bebas), dan ditambah lagi oleh peran media massa yang “sepertinya” tidak lagi mengabaikan asas kepatutan dalam menyebarkan informasi sesuai norma-norma etika, budaya, dan agama.
Berat memang menjadi orang tua, tetapi itulah indahnya hidup yang diberikan oleh Allah. Bagaimana kita bisa menjaga anak-anak adalah peran orang tua, bahkan peranan Ibu sebagai garda terdepan untuk anak-anak dari segi pendidikan. Ada kata mutiara dari bahasa arab, “Al Ummu madrasatul awlad”, atau dalam bahasa Indonesianya, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Untuk itu, tulisan ini saya persembahkan kepada para Ibu maupun calon Ibu, dan juga ayah sebagai kepala keluarga.
Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai “Lady Gaga” yaitu “Benarkah Lady Gaga tidak berbahaya bila dibiarkan konser di Indonesia?” saya mengulas sedikit tentang bahaya subliminal message atau yang lebih dikenal sebagai pesan-pesan tersembunyi dalam suatu media komunikasi. Mungkin kita sudah banyak mengetahui bahwa semasa anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat cepat dalam menyerap kondisi sekitar untuk dipelajari. Oleh karena itulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab baik itu mempunyai itikad business yang tidak baik maupun yang ingin menanamkan paham-paham yang bertentangan dengan Islam mengerti sekali kapan sebaiknya dalam mempengaruhi pikiran anak-anak kita, dan menggunakan cara apa.
Dalam era modernisasi seperti sekarang, peran media elektronik, baik itu televisi dan internet, sangat berpengaruh dalam ekosistem pembelajaran anak-anak. Tidak bisa dipisahkan antara anak-anak dengan televisi pada masa kecilnya. Namun apakah semua yang ditayangkan ditelevisi itu baik adanya? Ternyata tidak, karena pertama, televisi adalah suatu jenis media komunikasi elektronik SATU ARAH dalam mengirimkan pesan, tanpa bisa disortir. Anak-anak kita tanpa sadar hanya melihat, mendengar, dan menganalisa suatu informasi yang ditayangkan oleh televisi; dan kita tahu how exactly effective when audio and visual combined together as a method of communication. Apalagi dengan kesibukan kita saat ini, terkadang para orang tua dalam mendidik anak-anaknya seringkali tidak ada waktu, sehingga seringkali menyerahkan aktifitas anak-anak kepada televisi. Padahal sejak 12 tahun yang lalu, Journal of Pediatric Psychology telah mempublish peringatan tentang adanya bahaya adanya penyimpangan behavior anak-anak melalui media televisi dengan konten-konten yang tidak sesuai.
Kartun adalah salah satu jenis tipe ilustrasi 2D/3D yang sering ditampilkan ditelevisi dan sangatlah popular oleh anak-anak. Ternyata apa yang sering ditonton oleh anak-anak, yang kita sangka2 aman, ternyata tidaklah sepenuhnya benar. Mungkin ini terdengar sedikit mengada-ada bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, saya himbau kepada para pembaca untuk mengecheck kebenarannya, toh tidak ada salahnya kan =).
Banyak sekali pesan-pesan negative yang tersembunyi dalam kartun populer dimasa lalu dan kini, yang sifatnya merupakan suatu itikad untuk memasukkan pemahaman yang menyimpang kepada anak-anak kita sedari dini.

Mendidik anak secara islami

**Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami ?sindroma? anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.

Thursday, July 19, 2012

Bahaya Bahan pembuat Makanan

bahaya bahan pembuat mainan anak Bahaya Bahan Pembuat Mainan Anak Bahaya bahan pembuat mainan anak - Tak perlu membelikan anak mainan yang banyak. Sedikit mainan saja sudah membuatnya nyaman. Namun, harus diperhatikan terbuat dari bahan apa mainan anak tersebut.
Dengan bermain, anak akan memiliki dan mengembangkan potensi diri, daya pikir, dan kemampuan imajinatifnya. Banyak orang tua lebih mengajarkan bermain sambil belajar sesuatu hal kepada anaknya. Karena dengan metode seperti itu, si anak akan mudah menerima ajaran yang diberikan serta tidak akan membosankan.
Namun, dibalik indahnya bermain dengan anak, kita sebagai orang tua harus paham bahan apa yang tidak baik bagi kesehatan anak yang terdapat dalam mainan.
Karena saat ini, mainan banyak terbuat dari bahan yang berbahaya dan beracun. Untuk itu, bagi orang tua harus benar-benar tahu apakah mainan anak nya mengandung bahan berbahaya atau tidak. Karena kalau benar ada bahan berbahaya dalam mainan, maka akan menganggu kesehatan sang anak.

Tips memilih mainan anak

  • Perhatikan bahan pembuatnya. kebanyakan bahan mainan anak terbuat dari plastik. Namun, bahan plastik ini juga beresiko mengandung bahan kimia. Karena amat mudah memasukkan bahan kimia ke dalam plastik. Jadi, hindari bahan mainan dari plastik ini. Kita bisa memilih bahan dari kayu, wol, atau material alami sebagai alternatifnya.
  • Pilihlah bahan organic. Memang harga yang ditawarkan bahan mainan organic ini lebih mahal dari yang biasa. Tentu saja, selain lebih aman dan ramah pada anak-anak, bahan organic ini akan dapat membantu merangsang pertumbuhan pada anak.
  • Hindari bahan berbahaya. Bahan mainan yang yang mengandung PVC, timah, BPA, dan phtalates sangat tidak aman bagi anak-anak. Ini berarti akan mengganggu kesehatan anak dan perkembangan nya.
  • Jangan beri anak mainan banyak. Sedikit mainan sudah cukup untuk nya bermain. Lebih baik dengan sedikit mainan namun dapat menghibur serta mendidik anak daripada banyak mainan namun tidak bermanfaat.
Jadi, sebagai orang tua, haruslah bijak dalam membelikan mainan untuk anaknya. Lebih aman membuat mainan sendiri dan juga lebih bermutu.

Mengasah 7 kecerdasan anak melalui permainan

Kecerdasan tak identik dengan faktor genetik atau keturunan. Kecerdasan bisa didapat dari berbagai hal. Mulai nutrisi sehat hingga permainan. Menjadi salah satu kebanggaan bagi orangtua bila memiliki anak yang cerdas. Bagi yang tidak mendapatkannya, mereka sering kali menyerah, apalagi bila para orangtua merasa kecerdasan mereka biasa-biasa saja. Mereka berpikir bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diturunkan secara genetik.

Mulai sekarang, ubah pemikiran Anda. Kecerdasan bisa dibentuk sejak anak masih bayi. Dari hal yang paling sederhana, bermain misalnya. Kecerdasan apa yang dapat dikembangkan dengan permainan-permainan? Howard Gardner (1983), meyakini bahwa ada setidaknya tujuh kecerdasan yang dimiliki setiap manusia. Semua itu bisa diasah melalui permainan.

Kecerdasan Linguistik

Kemampuan linguistik anak mulai bisa diajarkan pada usia tiga bulan. Mulailah dengan menirukan suara-suara yang keluar dari si bayi. Seringlah mengajaknya berkomunikasi walau dia belum bicara. Menginjak usia enam bulan, mulailah membacakan cerita untuk si kecil.

Selanjutnya, ajaklah anak bermain dengan permainan yang bersuara, seperti telepon-teleponan yang bisa mengeluarkan suara, sehingga anak tertarik mendengarkan dan memainkan. Pada usia tiga tahun, kecerdasan linguistik bisa diasah dengan memberikan buku yang memiliki teks bagi anak yang sudah bisa membaca. Bacakan cerita pada anak yang lebih kecil, ajak anak menceritakan pengalamannya. Anda juga bisa mulai membiasakan si kecil menemukan simbol-simbol di sepanjang perjalanan.

Kecerdasan Logis-Matematis

Pada usia enam bulan, kemampuan logis matematis sudah bisa diajarkan. Caranya, berikan beberapa benda yang sama pada anak. Misalnya bola. Lalu sambil memberikan pada anak, kita mulai menghitung "satu..dua".

Anak mulai dikenalkan pada konsep angka. Lalu menginjak usia sembilan, ajari si kecil menyusun urutan balok. Di atas usia satu tahun, mulailah mengajaknya bermain puzzle sederhana (kurang dari 10 keping). Anda juga bisa mengajaknya bermain balok membentuk bangunan.

Kecerdasan spasial dan kinetik

Mengasah kemampuan spasial dan kinetik bahkan bisa dilakukan sejak bayi. Perdengarkan sumber suara, misalnya kerincingan, suara ibu atau ayah. Biarkan bayi mencari sumber suara. Semakin bertambah usia, semakin variatif juga metode permainannya.

Menginjak usia enam bulan, Anda bisa mengajaknya bermain dengan benda bergerak. Berikan mainan yang bisa bergerak, seperti mobil-mobilan. Jalankan mobil tersebut, biarkan bayi Anda bergerak mengikuti arah mobil. Anda bisa memberikan wadah berisi biskuit kecil untuk anak yang lebih besar dan sudah tumbuh gigi.

Biarkan anak untuk mencoba mengambil dan belajar memasukkan ke mulut. Anak yang sudah diberikan makanan pendamping ASI dan sudah mulai bisa duduk, ada baiknya juga didudukkan di kursi makan bayi (high chair), sehingga bisa belajar duduk baik.

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan yang satu ini juga bisa mulai diberikan sejak bayi lahir. Perdengarkan musik bagi bayi Anda. Bunyi-bunyian yang memiliki ritme tetap, juga akan membantu anak untuk belajar memahami bunyi. Pada tahap selanjutnya, asah kemampuan musik si kecil dengan memperdengarkan musik atau lagu-lagu.

Kecerdasan Interpersonal

Biasanya memasuki usia enam bulan, kemampuan interpersonal seorang anak sudah mulai tumbuh. Ajari si kecil melambaikan tangan, "gimme five", dan bersalaman untuk merangsang anak menciptakan interaksi dengan orang lain. Ajaklah anak bermain di taman dekat rumah. Biarkan dia mulai mengenal orang lain di luar keluarga. Menginjak usia satu tahun, Anda bisa mengajak si kecil bermain peran. Bermain dengan teman sebaya juga sangat bermanfaat untuk mengasah kemampuan interpersonal.

Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini bisa mulai dilatih pada anak mulai usia enam bulan dengan cara memanggil namanya. Biarkan dia memahami bahwa itu adalah namanya, dan tunggu sampai dia memberikan respons, misalnya dengan menoleh ke arah pemanggil. Lantas, ajak si kecil menggambar untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan imajinasi. Dari gambar yang dia buat, si kecil bisa melihat harapan-harapan ataupun emosi yang saat itu sedang dominan padanya.

Kecerdasan Naturalis

Cara mengasah kecerdasan ini juga bisa dilakukan melalui cara yang menyenangkan. Bawa anak ke halaman rumah, perkenalkan dengan binatang piaraan, perkenalkan dengan tanaman dan pohon-pohon. Lihat reaksinya. Seiring usia yang bertambah besar, ajak anak untuk memelihara binatang, tentu yang tidak berbahaya. Ajak juga si kecil bertanam atau merawat tanaman. (Koran SI/nsa, Family100)

 Sumber : www.azzahkidshop.com

Manfaat bermain bagi perkembangan anak


Let the children play, because it is their world. Kalimat di atas tidak sekedar retorika, tetapi merupakan kebutuhan mental, fisik dan psikologis anak dalam masa perkembangannya. Bermain merupakan kebahagiaan bagi anak-anak karena dengan bermain mereka bisa mengekspresikan berbagai perasaanya serta belajar bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Banyak ragam dan jenis permainan yang berkembang dari waktu ke waktu. Mulai dari permainan tradisional hingga permainan berteknologi modern. Tentu saja semua itu memerlukan kontrol dan seleksi dari orang tua agar tidak membahayakan bagi perkembangan anak.

Secara umum, jenis permainan anak dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
  • Permainan aktif, permainan yang biasanya melibatkan lebih dari satu orang anak. Bentuknya bisa berupa olahraga yang bermanfaat untuk mengolah kemampuan kinestesik dan lebih jauh lagi bisa memotivasi anak untuk belajar meraih keunggulan, serta belajar bertahan dalam persaingan. Bentuk permainan seperti ini secara tidak langsung juga melatih aspek kognitif anak untuk belajar mengatur dan menentukan strategi dalam meraih kemenangan, serta mengasah aspek afektif anak untuk bersikap sportif dan belajar menerima kekalahan ketika ia gagal.

  • Permainan pasif , permainan ini bersifat mekanis dan biasanya dilakukan tanpa teman yang nyata, bentuk konkretnya seperti main game. Jenis permainan seperti ini memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya ialah anak bisa memiliki keterampilan tertentu yang bisa berproses menjadi sebuah keahlian tertentu, sehingga bermanfaat untuk kehidupannya kelak. Main game di komputer biasanya membutuhkan keterampilan dan strategi yang tepat dari pemainnya Negatifnya ialah keranjingan dan ketergantungan berlebihan bila tidak diatur dan dibatasi oleh orang tuanya. Secara mental dan psikologis pun, anak akan cenderung menuntut untuk selalu menjadi nomor satu, bersikap egoistis, selalu ingin berkuasa dan memegang kendali atas sesuatu baik dalam keluarga maupun ketika ia bermain dengan temannya. Ini terjadi karena ia terbiasa senantiasa menang menghadapi lawan pasifnya (seperti komputer). Sikap ini kemungkinan besar akan menjadikan anak tidak bisa menerima kekalahan dan kegagalan, serta kurang nyaman bersosialisasi. Dalam kondisi tertentu, ketergantungan terhadap permainan pasif bisa menghambat kreativitas anak. Anak menjadi kurang kreatif karena terbiasa dengan program yang sudah siap pakai

  • Permainan fantasi, permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Kita mungkin sering melihat dan mendengar anak kecil berbicara sendiri ketika bermain boneka. Sebenarnya ia memiliki fantasi dan imajinasi sendiri mengenai tokoh yang dimainkannya melalui boneka itu. Permainan seperti ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar berperan dengan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional tokoh-tokoh yang ada dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun, sebaiknya anak diberikan ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif dan fantasi agar kecerdasan otaknya juga seimbang.

Bermain merupakan proses alamiah dan naluriah yang berfungsi sebagai nutrisi dan gizi bagi kesehatan fisik dan psikis anak dalam masa perkembangannya. Aktivitas bergerak (moving) dan bersuara (noice) menjadi sarana dan proses belajar yang efektif buat anak, proses belajar yang tidak sama dengan belajar secara formal di sekolah. Bisa dianalogikan bahwa bermain sebagai sebuah praktik dari teori sosialisasi dengan lingkungan anak.

Dengan bermain, anak bisa merasa bahagia. Rasa bahagia inilah yang menstimulasi syaraf-syaraf otak anak untuk saling terhubung, sehingga membentuk sebuah memori baru Memori yang indah akan membuat jiwanya sehat, begitupun sebaliknya. Karena itu, banyak manfaat dari bermain untuk mengoptimalkan perkembangan anak, di antaranya :

  • Learning by planning. Bermain bagi anak dapat menyeimbangkan motorik kasar seperti berlari, melompat atau duduk, serta motorik halus seperti menulis, menyusun gambar atau balok, menggunting dan lain-lain. Keseimbangan motorik kasar dan halus akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Secara tidak langsung, permainan merupakan perencanaan psikologis bagi anak untuk mencapai kematangan dan keseimbangan di masa perkembangannya

  • Mengembangkan otak kanan. Dalam beberapa kondisi belajar formal, seringkali kinerja otak kanan tidak optimal. Melalui permainan, fungsi kerja otak kanan dapat dioptimalkan karena bermain dengan teman sebaya seringkali menimbulkan keceriaan bahkan pertengkaran. Hal ini sangat berguna untuk menguji kemampuan diri anak dalam menghadapi teman sebaya , serta mengembangkan perasaan realistis anak akan dirinya. Artinya, ia dapat merasakan hal-hal yang dirasa nyaman dan tidak nyaman pada dirinya dan terhadap lingkungannya, serta dapat mengembangkan penilaian secara objektif dan subjektif atas dirinya.

  • Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak. Bermain dapat menjadi sarana anak untuk belajar menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dalam permainan anak berhadapan dengan berbagai karakter yang berbeda, sifat dan cara berbicara yang berbeda pula, sehingga ia dapat mulai mengenal heterogenitas dan mulai memahaminya sebagai unsur penting dalam permainan. Anak juga dapat mempelajari arti penting nilai keberhasilan pribadi dalam kelompok; serta belajar menghadapi ketakutan, penolakan, juga nilai baik dan buruk yang akan memperkaya pengalaman emosinya. Dengan kata lain, bermain membuat dunianya lebih berwarna, perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, senang, bahagia akan secara komplit ia rasakan dalam permainan. Hal ini akan menjadi pengalaman emosional sekaligus belajar mencari solusi untuk menanggulangi perasaan-perasaan tersebut di kemudian hari.

  • Belajar memahami nilai memberi dan menerima. Bermain bersama teman sebanya bisa membuat anak belajar memberi dan berbagi, serta belajar memahami nilai take and give dalam kehidupannya sejak dini. Melalui permainan, nilai-nilai sedekah dalam bentuk sederhana bisa diterapkan. Misalnya berbagi makanan atau minuman ketika bermain, saling meminjam mainan atau menolong teman yang kesulitan. Anak juga akan belajar menghargai pemberian orang lain sekali pun ia tidak menyukainya, menerima kebaikan dan perhatian teman-temannya. Proses belajar seperti ini tidak akan diperolah anak dengan bermain mekanis/pasif, karena lawan atau teman bermainnya adalah benda mati.

  • Sebagai ajang untuk berlatih merealisasikan rasa dan sikap percaya diri (self confidence), mempercayai orang lain (trust to people), kemampuan bernegosiasi (negotiation ability) dan memecahkan masalah (problem solving). Ragam permainan dapat mengasah kemampuan bersosialisasi, kemampuan bernegosiasi, serta memupuk kepercayaan diri anak untuk diakui di lingkungan sosialnya. Anak juga akan belajar menghargai dan mempercayai orang lain, sehingga timbul rasa aman dan nyaman ketika bermain. Rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap orang lain dapat menimbulkan efek positif pada diri anak, ia akan lebih mudah belajar memecahkan masalah karena merasa mendapat dukungan sekalipun dalam kondisi tertentu ia berhadapan dengan masalah dalam lingkungan bermainnya. Reamonn O Donnchadha dalam buku The Confident Child menyatakan bahwa “Permainan akan memberi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus belajar memecahkan masalah.” Kepercayaan merupakan modal dalam membina sebuah hubungan, termasuk hubungan pertemanan anak kecil. Kepercayaan juga dapat menjadi motivasi untuk memecahkan masalah karena tanpa itu masalah tidak akan pernah benar-benar selesai dan sebuah hubungan menjadi tidak langgeng.

Semua orang tua pasti menyayangi anak-anaknya, bersedia melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, bentuk kasih sayang yang kurang bijaksana seringkali membelenggu kebebasan jiwa anak. Anak adalah jiwa yang bernyawa, hati yang berperasaan dan jasad yang berpemikiran. Biarkan anak bahagia dengan dunianya, karena kebahagiaan di masa kecil turut menentukan kualitas hidupnya di masa depan.

Sumber Referensi: The Confident Child, Human Development,

Tema dalam Setahun PAUD dan TK

disini akan aq tuliskan tema yang aq gunakan dalam setahun kegiatan belajar mengajar di PAUD pada bidang pengembangan usia TK…
SEMESTER 1
  1. Diri Sendiri (3minggu). Sub tema : identitasku, anggota tubuh, panca indra
  2. Lingkunganku (4minggu). Sub tema : rumahku, bagian rumahku, sekolahku
  3. Kebutuhanku (4minggu). Sub tema : makanan/minuman,pakaian, kebersihan
  4. Binatang (3minggu). Sub tema : jenis binatang, cara hidup binatang, ciri binatang
  5. Tanaman (3minggu). Sub tema : macam tanaman, cara menanam dan merawat tanaman, bagian tanaman
SEMESTER 2
  1. Rekreasi (4minggu). Sub-tema : kendaraan di darat, kendaraan di udara, kendaraan di laut
  2. Pekerjaan (3minggu). Sub tema : pekerjaan orang tuaku, pekerjaan di lingkungan rumahku, pekerjaan di kotaku
  3. Air Udara Api (2minggu). Sub tema : air, udara dan api
  4. Alat Komunikasi (2minggu). Sub tema : alat komunikasi elektronik, alat komunikasi non elektronik
  5. Tanah Air (2minggu). Sub tema : kota tempat tinggaku, makanan khas kotaku
  6. Alam Semesta (3minggu). Sub tema : benda langit, musim di Indonesia, gejala alam
demikian sedikit gambaran yang bza aq sampaikan.
adapun pengembangan / perluasannya bisa dituangkan dalam aktivitas yang dilakukan dalam setiap harinya.
TIPS :
cara yang paling mudah agar kita tidak kebingungan membuat kegiatan setiap harinya di sekolah, lakukan langkah2 berikut :
1. dari tema yang ada qta bisa menentukan sub-tema. sub-tema ini biasax aquw buat berbeda setiap minggu.
2. berbekal dari indikator yang ada, mulai tentukan program kerja tahunan.biasanya disediakan 2bendel form, untuk semester I dan semester II. bisa juga diisi setiap sebelum semester baru dimulai.
3. mengerjakan program semester. kali ini biasanya aquw memberikan tanda2 cawang pada setiap indikator yang akan diambil sesuai dengan tema dan akan ditempatkan pada minggu ke-berapa pada form sudah tersedia. dilakukan setiap semester. sebelum semester baru dimulai, harus sudah terprogram
4. mengerjakan Rencana Kegiatan Mingguan (RKM/SKM). naaaah, hal ini semakin mempermudah kita untuk mengetahui atau menentukan kegiatan2 yang nantinya akan dilakukan. agar tidak lagi bersusah2 untuk mencari bahan karena waktu mepet atau kelupaan. RKM yang biasa digunakan adalah berbentuk spider web. tetapi sebenarnya tidak hanya itu saja bentuknya. kalau aq menggunakan bentuk kolom-kolom dan diberi kegiatan sesuai dengan bidang pengembangan dan haripenyampaian materi.
5. membuat Rencana Kegiatan Harian (RKH/SKH). menurut aq, mempersiapkan RKH ini akan sangat mudah apabila kita sudah mengerjakan step-step sebelumnya. hanya tinggal menyalin saja, dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguhmateri yang akan disampaikan setiap harinya. untuk indikator dan kegiatan yang akan dilakukan setiap harinya, bisa dibuat lebih dahulu. hanya untuk evalusi yang harus diisi sesuai dengan kondisi kelas pada hari / tanggal yang sesuai.
demikian yang bisa aq sampaikan. semoga bermanfaat yaaa…
untuk gambar2 segera menyusul, karena belom sempat foto-fotoin c.. he3…
yiuuuk qta tukar ide kalau ada kurang lebihnya tulisan aq ini…

Kreativitas dan dunia anak


Kreativitas didefinisikan dan dimaknai dengan berbagai sudut pandang. Secara bahasa, Michaelis (1980) mengartikan kreativitas sebagai sesuatu yang baru atau original. Michaelis menambahkan bahwa sekaitan dengan dunia anak, hal yang baru atau original tersebut mengandung makna interpretasi. Jadi baru di sini adalah sesuatu sebagai hasil dari hubungan sintesis ide-ide original yang sudah ada, hipotesis yang baru atau cara baru dalam melakukan sesuatu.hubungan dari sintesis dan ekspresi. Jadi baru bukan benar-benar baru tapi merupakan hasil dari kemampuan dalam menyusun kembali sesuatu yang telah ada untuk tujuan tertentu. Seperti yang dinyatakan Lowenfield (1956):
This ability to rearrange and redefine materials for new purposes is an important aspect of any creative process. In fact, it is the nature of experimentation with materials to use them in an new way or rearrange them in new combination.
Jadi, ketika kita berbicara kreativitas dan anak, maka kita berbicara bagaimana memberikan materi-materi pengetahuan pada anak sehingga input pengetahuannya banyak dan akhirnya dia bisa mensintesis dari pengetahuan-pengetahuan tersebut hal-hal yang baru atau orisinil. Tapi pentu saja selain input berbagai pengetahuan yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk melahiran hal yang orisinil tersebut.
Kreativitas menyangkut berbagai segi. Ditinjau dari segi kepribadian, kreativitas merujuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap pribadi, anak maupun orang dewasa. Pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat kreatif dengan derajat dan bidang yang berbeda-beda. Kita perlu mengenal bakat kreatif pada anak untuk dapat mengembangkan kreativitas anak. Setelah itu, kita pun harus menghargainya dan memberi kesempatan serta dorongan untuk mewujudkannya.
Jika ditinjau sebagai suatu proses, kreativitas dapat dinyatakan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu  berusaha menemukan  hubungan-hubungan yang baru untuk mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah. Pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan, kreativitas hendaknya mendapat perhatian dalam hal proses, bukan produk dari kreativitas itu sendiri.
Ada 3 ciri dominan anak kreatif, yakni spontan, memiliki rasa ingin tahu dan tertarik pada hal-hal yang baru. Ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada diri anak, artinya pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan dasar kreativitas sejak dini. Pada usia selanjutnya kreativitas anak dapat berkembang optimal atau dapat tertekan atau terhambat tergantung berbagai hal, seperti gizi, kesehatan, pengasuhan, serta lingkungan sekitar. Kewajiban orang tua sebenarnya adalah mempertahankan agar anak tetap kreatif
Orang kreatif menyukai tantangan dan yakin bahwa setiap permasalahan memiliki solusi. Orang kreatif juga sudah biasa terbuka terhadap ide baru dan berani mengambil resiko atas ide barunya tersebut meskipun tidak mendapat respon dari lingkungannya. Ciri-ciri orang kreatif antara lain:
  1. Ia bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan.
  2. Ia mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat suatu masalah dalam berbagai sudut pandang.
  3. Ia dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang lain.
  4. Ia mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil sebagaimana aslinya.
Agar kreativitas dapat berkembang, diperlukan dorongan atau pendorong dari dalam sendiri dan dari luar. Pendorong yang datangnya dari diri sendiri, berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi, sedangkan yang dari luar misalnya keluarga, sekolah dan lingkungan.
Dalam lingkungan keluarga, pendidikan orang tua terhadap anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Anak yang memiliki bakat tertentu, jika tidak diberikan rangsangan-rangsangan atau motivasi dari orang tua dan lingkungannya,   tidak akan mampu memelihara, apalagi mengembangkan bakatnya.  
Keluarga adalah lingkungan yang paling banyak mempengaruhi kondisi  psikologis dan spiritual anak. Di Jepang, misalnya, karena Jepang sangat memperhatikan pengembangan kreativitas anak melalui kebebasan dan pemupukan kepercayaan diri, kebangkitan kreativitas anak-anak di Jepang mengungguli anak-anak di Amerika dan Eropa (Awwad, 1995). Tapi kondisi tersebut sangat berbeda di Indonesia. Suatu penelitian di Jakarta tentang sikap orang tua dalam pendidikan anak menyimpulkan bahwa orang tua  kurang menghargai perkembangan dari ciri-ciri inisiatif, kemandirian dan kebebasan yang erat hubungannya dengan pengembangan kreativitas dan lebih mementingakan ciri-ciri kerajinan, disiplin dan kepatuhan.
Setelah keluarga, lingkungan selanjutnya yang bisa mempengaruhi kreativitas anak adalah sekolah. Menurut pengamat pendidikan Islam Drs. Asep Sujana, anak-anak di masa sekolahnya dulu sudah dikondisikan untuk mengeluarkan daya kreativitasnya seperti melalui mata pelajaran prakarya atau hastakarya dengan membuat beberapa perhiasan, barang cendera mata, atau peralatan rumah tangga dari barang-barang yang ada di lingkungan rumah dan sekolah. Tapi sekarang situasi di sekolah tidak memunginkan anak untuk kreatif. Berdasarkan sebuah penelitian, di sekolah ditemukan kurang lebih 40 % anak berbakat tidak mampu berprestasi setara dengan kapasitas  yang sebenarnya dimiliki (Achir,1990). Akibatnya, sekalipun berkemampuan tinggi, banyak anak berbakat tergolong kurang berprestasi.

Endah Silawati